Bantul, 8 Oktober 2025 – Innalillahi wa inna ilaihi roji’un . . . Pagi yang cerah di Pondok Pesantren An Nur berubah menjadi hujan air mata penuh haru karena dikejutkan dengan kabar berpulangnya salah satu guru sekaligus dzurriyah yakni KH. ‘Ashim Nawawi pada tanggal 7 Oktober 2025 pukul 08.30 WIB, beliau menghembuskan nafas terakhirnya pada usia 72 tahun setelah beberapa hari mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Sardjito, Yogyakarta, sebelumnya beliau baru saja selesai melaksankan ibadah umroh bersama keluarganya. KH. ‘Ashim Nawawi meninggalkan seorang istri dan empat orang putra, selanjutnya jenazah langsung dikebumikan disamping ayahanda KH. Nawawi Abdul Aziz, wafatnya KH. ‘Ashim Nawawi bukan hanya menjadi kehilangan bagi keluarga An Nur saja akan tetapi bagi dunia pesantren dan umat Islam di Yogyakarta. Sejak kabar duka ini tersiar, kalangan santri, alumni dan tokoh ulama’ turut menyampaikan belasungkawa dan ucapan duka cita atas kepergian KH ‘Ashim Nawawi.
- Profil KH. Ashim Nawawi
KH. ‘Ashim Nawawi merupakan putra pertama dari pasangan KH. Nawawi Abdul Aziz dengan Ny. Hj. Walidah Munawwir Krapyak, semasa hidupnya, KH ‘Ashim Nawawi dikenal sebagai sosok yang alim, tawadhu’, bersahaja, penuh kasih, dan istiqomah dalam mengajar di pesantren, sebagai bagian dari pengasuh Pondok Pesantren An Nur KH. ‘Ashim Nawawi ikut meneruskan estafet perjuangan ayahandanya, beliau juga dikenal luas sebagai guru kitab Al-Hikam karya Ibnu ‘Athaillah As-Sakandari, yang menjadi rujukan utama dalam ilmu tasawuf yang rutin diselenggarakan di mushola pondok pesantren An Nur setiap pagi, beliau meneruskan tradisi keilmuan dengan penuh kesungguhan dengan menanamkan nilai-nilai ikhlas, zuhud, taqwa dan cinta kepada Allah dalam setiap pengajiannya.
Selain itu KH. ‘Ashim Nawawi merupakan ulama’ yang kharismatik dan lowprofile dekat dengan semua orang seperti keluarga, santri, alumni dan masyarakat, dari beberapa informasi yang dikumpulkan yakni dari KH. Muslim Nawawi yang merupakan adik beliau, KH. ‘Ashim Nawawi sebagai magnet yang kuat untuk menjaga kekompakan dan kerukunan dikeluarga Bani Nawawi, beliau adalah orang yang selalu mengingatkan dan mengundang keluarga untuk berkumpul mengadakan pertemuan sekaligus amaliyah birrul walidain di hari Selasa legi yang merupakan wafatnya Ny. Hj. Walidah Munawwir, lalu KH. Muslim Nawawi menambahkan bahwa beliau merupakan kyai lugu dan sederhana sampai-sampai tidak bisa naik sepeda motor, dari keluarga yang lain menyampaikan bahwa KH. ‘Ashim Nawawi adalah orang yang tawadhu’ beliau sering bertanya hukum dan syarah hikam jika ada masalah fiqih atau musykilah dalam syarah hikam dengan sering berkunjung sendiri ketempatnya, padahal sudah disampaikan kepada beliau bahwa dia saja yang sowan kepada beliau.

KH. ‘Ashim Nawawi aktif mengikuti kegiatan alumni dan merupakan penggerak dari organisasi alumni An Nur (IASA) dalam sebuah kesempatan beliau pernah berpesan bahwa seorang santri atau alumni, sebaiknya senantiasa menjaga perkumpulan alumni sebagai wadah dan sarana ‘alaqoh (hubungan) dengan gurunya, kalau perkumpulan alumni tidak dipentingkan kadang bisa lupa dengan guru dan almamaternya, kemudian kepada asatidz madrasah diniyah beliau sering mengingatkan bahwa beliau mengajar di madrasah diniyah dan pondok itu juga mengabdi karena merupakan warisan dan tinggalan dari simbah Nawawi, satu contoh dari beliau saat usia senja yang sekedar naik dan turun motor tertatih, beliau selalu menyempatkan mengajar dikelas dengan semangat dan selalu menulisakan materi alfiyah yakni fan yang beliau ampu sendiri dipapan tulis, selain itu keistiqomahan beliau dalam mengaji meskipun sedang rintik hujan maupun deras dan terik panas, entah kebetulan belum ada yang menjemput beliau dengan motor, beliau rela berjalan kaki dari rumah sampai ke madrasah yang berjarak 300 meter meskipun dalam langkah pelan tertatih dan nafas yang terengah-engah, tiada hari tanpa mengaji sepenuhnya hidup beliau untuk mengamalkan ilmu.
- Pendidikan
KH. ‘Ashim Nawawi saat belia belajar Al-Qur’an secara langsung oleh ayahnya KH. Nawawi Abdul Aziz yang terkenal sangat disiplin dan Istiqomah, lalu beliau memperdalam kitab di pondok pesantren Miftahul ‘Ulum Lirap, Kebumen, Jawa Tengah yang terkenal dengan ilmu gramatika bahasa Arabnya (Nahwu dan Shorrof), selanjutnya beliau belajar di pondok pesantren Al Falah, Ploso, Mojo, Kediri disana beliau belajar banyak fan keilmuan seperti: fiqih, tafsir, hadits dan kitab tasawuf.

- Kiprah
KH. ‘Ashim Nawawi menjadi salah satu dewan pengasuh di Pondok Pesantren An-Nur, beliau menjadi pembina di Yayasan An-Nur, selain itu beliau aktif menjadi Mudir ‘Am (pimpinan tertinggi) Madrasah Diniyah Al Furqon, dan pernah menjadi guru di MTs dan Madrasah ‘Aliyah An Nur.
Beliau pergi di hari Selasa seperti ibunya Ny. Hj. Walidah Munawwir, dan seperti sebuah dawuh dari Syaikhona Maimun Zubair: Jika seorang meninggal dihari Selasa, berarti ulama’, jika seorang meninggal dihari Jum’at berarti wali”. Wallahu a’alam, selamat berpulang KH. ‘Ashim Nawawi semoga Allah SWT menerima seluruh amal kebaikan sekaligus mengampuni segala kekhilafan beliau, dan menempatkannya di surga bersama para rasul tabi’in ulama’ dan salafussalihin . . . aaamiin . . . aaamiiin . . . ya robbal alamin . . .